Setelah membaca dan mendengar cerita mengenai Cianten, akhirnya saya dan teman kantor saya berniat untuk melakukan perjalanan ke Cianten. Rencana untuk bergenjot ria di Cianten, terwujud ketika ada undangan dari teman-teman CikarangMTB dan Sacyc. Perencanaan perjalanan pun mulai dilakukan dengan mencari referensi dari internet. Peta Indonesia dari situs navigasi.net sangat banyak membantu saya untuk memahami track Cianten ini.
Kami memulai perjalanan sepagi mungkin melalui Jalan Raya Parung-Bogor. Perjalanan kami teruskan ke arah Bogor, dengan menggunakan kendaraan milik Mas Kunto. Sebelum mencapai kotamadya Bogor, kami memotong jalan melalui jalan Lanud Atang Sanjaya menuju ke arah barat. Setelah melewati pasar yang sempit dan jalanan kampong yang cukup bagus (walaupun sempit), akhirnya kami tiba di pertigaan Pasar Leuwiliang-Karacak. Dari sini, kami masih harus menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil sepanjang 7 km untuk mencapai kantor PLTA Karacak.
Setelah menunggu beberapa saat, rombongan CikarangMTB dan Sacyc akhirnya tiba juga di area PLTA Karacak. Sesegera mungkin kami menurunkan sepeda dari mobil, sambil menunggu angkutan umum yang sebelum nya sudah dipesan oleh teman-teman dari CikarangMTB. Setelah angkutan umum tiba di lokasi, kami pun mulai memasukkan sepeda kami ke dalam angkutan umum. Sekitar empat sepeda dan empat orang dewasa dapat masuk ke dalam angkutan umum tersebut.
Perjalanan diteruskan dari PLTA Karacak menuju Perkebunan the Cianten. Jarak antara kedua lokasi ini adalah sekitar 15-16 km dengan waktu tempuh sekitar 45-60 menit dengan menggunakan angkutan umum sewaan. Jalan menuju Perkebunan The Cianten tidak terlalu mulus dan menanjak. Sekitar jam 10.30, akhirnya kami tiba di warung yang menjadi titik start untuk memulai perjalanan dengan sepeda. Setelah menurunkan sepeda dari angkutan umum dan menikmati makanan warung setempat, kami pun memulai briefing sebelum memulai genjotan hari itu.
Phase 1 (Kebon Teh-Chevron Geothermal)
Fase pertama dari perjalanan di Cianten hari ini, dimulai dengan jalan aspal tanjakan tipikal perkebunan the di wilayah Jawa Barat. Jalanan yang menanjak dengan suguhan pemandangn indah perkebunan the dengan latar belakang Gunung Parakan Salak/Salak. Di kejauhan kita bisa melihat batas perkebunan teh Cianten dengan pohon pohon lebat yang menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Sekitar 7.5 km menempuh jalan perkebunan the, akhirnya kami tiba di shelter pertama yang terletak dengan sumur panas bumi milik Chevron. Berhenti sebentar, minum air, foto foto dan perjalanan dilanjutkan ke lokasi sumur panas bumi yang kedua. Jalan beton berwarna terang yang baru saja di bangun oleh operator panas bumi di lokasi tersebut, kami lalui tanpa masalah. Kita masih disuguhi pemandangan indah pegunungan di wilayah ini.
Phase 2 (Chevron-Kp. Muara)
Setelah tiba di sumur panas bumi kedua, kita sesegera mungkin membelokkan arah ke jalur tanah perkebunan the, yang relative menurun. Sampai akhirnya kita ke batas hutan dan akhirnya tiba di jalur single-track dengan jurang yang cukup curam di sebelah kiri jalan. Pada hari itu jalur sepedaan kelihatan amburadul. Menurut informasi dari penduduk setempat, hal ini dikarenakan jalur ini biasanya dipakai pemakai Motor-Cross di hari Sabtu sebelumnya. Panjang Jalur single track tanah ini sekitar 1.8 km dengan turunan cukup curam dan berkelok-kelok di bagian bawah nya. Disarankan untuk berhati-hati bila melewati daerah ini, apalagi bila melewatinya setelah hari hujan. Ujung dari jalur single-track ini adalah sebuah kampong kecil yang bernama Kampung Muara. Di kampong kecil ini kita bisa menemui sebuah warung yang menjual makanan2 kecil yang bisa dinikmati oleh pesepeda.
Phase 3 (Kp. Muara-Makadam)
Kami masih melewati jalur tanah setelah meninggalkan Kampung Muara. Tak jauh dari Kampung Muara, kami tiba di pinggiran sungai yang memiliki jembatan besi yang sempit. Perlahan kami melewati jembatan besi yang sempit itu…dan kembali melanjutkan perjalanan melalui jalur macadam yang naek turun. Di sekitaran jalan macadam ini , kita masih bisa menikmati panorama alam yang sangat alami, persawahan yang berada di punggungan bukit dan sungai besar yang meliuk seperti ular. Kami melalaui jalur makadam ini sepanjang 7 km, sampai akhirnya kami tiba di pertigaan Jalan Aspal yang masih mulus. Kendaraan bermotor cukup ramai melalui jalan aspal ini, sehingga membuat kami harus sedikit berhati-hati ketika melalui tikungan dan tanjakan.
Phase 4 (Aspal Naek Turun)
Hari semakin siang ketika kami melewati jalan aspal. Rombongan mulai terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok kami yang terbelakang pada saat itu, oleh karena salah seorang teman kami dari CikarangMTB kehilangan kamera digitalnya pada saat meluncur kencang di turunan jalan aspal. Sesaat kami berhenti sebentar untuk mencari kamera digital yang terjatuh, dan untungnya kamera digital tersebut bisa kami temukan di balik semak2 pendek yang ada di pinggir jalan aspal.
Phase 5 (Waduk)
Setelah 4 tanjakan dan 4 turunan, rombongan kami berbelok ke sebuah tanjakan tanah yang sedikit berbatu. Tanjakan ini membawa kami ke sebuah perkampungan kecil yang sudah dekat dengan fasilitas jalur air untuk PLTA Karacak. Kami mengikuti jalur air yang cukup besar sampai pada akhirnya kami tiba di sebuah waduk pengumpul air. Beberapa orang mengambil kesepatan untuk berfoto-foto ria di tengah waduk tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke waduk utama PLTA Karacak. Di dekat waduk utama ini, kita bisa menjajal jalur tanjakan curam berumput. Tanjakan tersebut hanya sepanjang 100-120 meter, tapi yah…namanya juga usaha…tidak ada satupun dari kami yang berhasil melewati tanjakan tersebut dengan sepeda kami. Dari waduk utama ini, kami terus mengikuti jalur pipa dan aliran air yang ada di utara waduk. Tak jauh dari waduk utama tersebut, tibalah kami di turunan nan curam…sebuah turunan dengan tangga kecil di tengahnya. Sulit untuk menggabarkan turunan ini… tapi yah, cukup aman lah untuk menjajal sepeda di turunan tajam dengan sepeda anda… ternyata, turunan curam PLTA Karacak ini sudah sangat dekat dengan area parkiran mobil rombongan kami.
Hujan pun mulai turun, dengan sesegera mungkin kami berbenah untuk segera pulang ke rumah masing2x… thanks kepada teman2 CikarangMTB dan Sacyc...Cianten memang layak untuk dikunjungi….
@om qodrat: 2 jam an...hehhee..dah pake ampir kram n pinggang kayak mo patah..
ditambah jalan rusak n hujan...makin sengsara aja deh...
om iman blacken kemaren bisa 1 jam 20 menit..
Bookmarks