abi salam
10-01-2009, 17:53
Mengapa bersepeda?
Bersepeda ke kantor sebaiknya dilakukan bagi yang tempat kerjanya tidak terlalu jauh. Barangkali jarak antara 5 – 15 km masih layak. Tetapi bagi yang mempunyai fisik yang kuat, lebih dari jarak itu tidak masalah. Dalam situasi harga BMM yang tidak menentu, pilihan B2W sangat tepat. Setelah penulis mencoba, beberapa keuntungan yang didapat yaitu: sarana olah raga, mengurangi polusi, penghematan BBM, dan tentu saja dapat memaknai kehidupan.
Bersepeda ibarat mengayuh kehidupan. Ketika menghadapi jalan menanjak, kita harus bekerja keras mengatasinya. Sekuat daya dan upaya dilakukan, agar tanjakan bisa diatasi. Ketika jalanan menurun, tanpa dikayuhpun sepeda melesat cepat. Bahkan yang sudah ahli bisa melaju tanpa pegang stang sepeda. Itulah kondisi yang dihadapi manusia. Ada kalanya harus bersusah payah, ada kalanya menghadapi kemudahan. Ketika susah jangan mengeluh, ketika senang jangan lengah.
Sepeda memiliki spesifikasi berbeda-beda. Ada sepeda konvensional yang hanya punya gigi standar. Dalam kondisi jalan rata ataupun bergelombang tidak bisa oper gigi (gear). Sedangkan sepeda yang canggih, banyak pilihan oper gigi. Ini memudahkan menghadapi kondisi jalan.
Dimana relevansinya bersepeda dengan kehidupan? Sepeda bergigi konvensional menggambarkan kapasitas SDM yang menghadapi kehidupan secara konvensional. Sepeda bergigi banyak dimaknai menghadapi kehidupan dengan berbagai cara. Dalam hidup ini tidak hanya hitam dan putih. Jika dihadapi dengan hitam putih, maka tidak akan selesai. Maka tidak cukup hanya dengan ketrampilan hidup sekedarnya.
Tapi, dengan sepeda bergigi banyak, tidak lantas segalanya bisa diatasi. Terkadang, walau fasilitas mendukung, jika pengayuhnya tidak profesional, maka fasilitas tersebut mubazir. Kapan saat harus ganti gigi, kapan saat harus menggunakan rem, dan kapan saatnya kita turun dari sadel sepeda. Dalam praktek kehidupan ada kalanya segala upaya sudah dilakukan, tetapi masalah tak kunjung selesai. Seperti mengoper gigi sepeda ketika jalan menanjak. Tetapi, tetap saja tenaga kita tidak mampu mengatasinya. Solusinya, kita harus pasrah. Turun dari sadel, dan kini giliran kita berjalan bersama-sama sepeda.
Tantangan lain, saat menemui jalan becek, atau ketika menyeberang jalan. Kita harus rela turun. Bahkan gantian sepeda yang kita pikul mengindari becek atau menyeberang jalan. Ini mengingatkan kita, bahwa tidak selamanya profesionalitas dan kapasitas kita mampu mengatasi segala rintangan. Dalam situasi seperti itu, kepasrahan, kepatuhan, dan do’a tulus kepada Allah adalah jawabnya.
Jadi, dalam mengayuh kehidupan sangat berkaitan dengan seni dan teknik menggunakan gigi-gigi dalam sepeda. Sering kita mendengar the man behind the gun. Maknanya, optimalisasi teknologi sangat tergantung kepada penggunanya. Mensiasati kehidupan sangat tergantung kepada ketrampilan hidup seseorang. Ketrampilan intelektual, emosional dan juga ketrampilan spiritual.
Apa upaya kita?
Saat ini fasilitas jalanan kota-kota di Indonesia belum ramah bagi pengendara sepeda. Termasuk pula kota Depok. Ada baiknya, dalam rangka mendorong bike to work, pemerintah memfasilitasi jalur bersepeda.
Ditempat kerja, dipasar, atau di pusat perbelanjaan perlu disediakan parkir sepeda. Dengan demikian masyarakat nyaman bersepeda ketempat tersebut.
Dalam rangka mengisi tahun 2009 ini, semoga kita tergerak untuk melakukan perubahan. Bersepeda ke ketempat kerja mudah-mudah bisa menjadi pilihan. Karena dengan mengayuh sepeda ke kantor, sama dengan kita selalu mengingatkan diri dalam mengayuh kehidupan. Ya, mengayuh sepeda kehidupan. (Penulis adalah Peneliti pada LPKD, tinggal di Cipayung Jaya, Kota Depok)
Bersepeda ke kantor sebaiknya dilakukan bagi yang tempat kerjanya tidak terlalu jauh. Barangkali jarak antara 5 – 15 km masih layak. Tetapi bagi yang mempunyai fisik yang kuat, lebih dari jarak itu tidak masalah. Dalam situasi harga BMM yang tidak menentu, pilihan B2W sangat tepat. Setelah penulis mencoba, beberapa keuntungan yang didapat yaitu: sarana olah raga, mengurangi polusi, penghematan BBM, dan tentu saja dapat memaknai kehidupan.
Bersepeda ibarat mengayuh kehidupan. Ketika menghadapi jalan menanjak, kita harus bekerja keras mengatasinya. Sekuat daya dan upaya dilakukan, agar tanjakan bisa diatasi. Ketika jalanan menurun, tanpa dikayuhpun sepeda melesat cepat. Bahkan yang sudah ahli bisa melaju tanpa pegang stang sepeda. Itulah kondisi yang dihadapi manusia. Ada kalanya harus bersusah payah, ada kalanya menghadapi kemudahan. Ketika susah jangan mengeluh, ketika senang jangan lengah.
Sepeda memiliki spesifikasi berbeda-beda. Ada sepeda konvensional yang hanya punya gigi standar. Dalam kondisi jalan rata ataupun bergelombang tidak bisa oper gigi (gear). Sedangkan sepeda yang canggih, banyak pilihan oper gigi. Ini memudahkan menghadapi kondisi jalan.
Dimana relevansinya bersepeda dengan kehidupan? Sepeda bergigi konvensional menggambarkan kapasitas SDM yang menghadapi kehidupan secara konvensional. Sepeda bergigi banyak dimaknai menghadapi kehidupan dengan berbagai cara. Dalam hidup ini tidak hanya hitam dan putih. Jika dihadapi dengan hitam putih, maka tidak akan selesai. Maka tidak cukup hanya dengan ketrampilan hidup sekedarnya.
Tapi, dengan sepeda bergigi banyak, tidak lantas segalanya bisa diatasi. Terkadang, walau fasilitas mendukung, jika pengayuhnya tidak profesional, maka fasilitas tersebut mubazir. Kapan saat harus ganti gigi, kapan saat harus menggunakan rem, dan kapan saatnya kita turun dari sadel sepeda. Dalam praktek kehidupan ada kalanya segala upaya sudah dilakukan, tetapi masalah tak kunjung selesai. Seperti mengoper gigi sepeda ketika jalan menanjak. Tetapi, tetap saja tenaga kita tidak mampu mengatasinya. Solusinya, kita harus pasrah. Turun dari sadel, dan kini giliran kita berjalan bersama-sama sepeda.
Tantangan lain, saat menemui jalan becek, atau ketika menyeberang jalan. Kita harus rela turun. Bahkan gantian sepeda yang kita pikul mengindari becek atau menyeberang jalan. Ini mengingatkan kita, bahwa tidak selamanya profesionalitas dan kapasitas kita mampu mengatasi segala rintangan. Dalam situasi seperti itu, kepasrahan, kepatuhan, dan do’a tulus kepada Allah adalah jawabnya.
Jadi, dalam mengayuh kehidupan sangat berkaitan dengan seni dan teknik menggunakan gigi-gigi dalam sepeda. Sering kita mendengar the man behind the gun. Maknanya, optimalisasi teknologi sangat tergantung kepada penggunanya. Mensiasati kehidupan sangat tergantung kepada ketrampilan hidup seseorang. Ketrampilan intelektual, emosional dan juga ketrampilan spiritual.
Apa upaya kita?
Saat ini fasilitas jalanan kota-kota di Indonesia belum ramah bagi pengendara sepeda. Termasuk pula kota Depok. Ada baiknya, dalam rangka mendorong bike to work, pemerintah memfasilitasi jalur bersepeda.
Ditempat kerja, dipasar, atau di pusat perbelanjaan perlu disediakan parkir sepeda. Dengan demikian masyarakat nyaman bersepeda ketempat tersebut.
Dalam rangka mengisi tahun 2009 ini, semoga kita tergerak untuk melakukan perubahan. Bersepeda ke ketempat kerja mudah-mudah bisa menjadi pilihan. Karena dengan mengayuh sepeda ke kantor, sama dengan kita selalu mengingatkan diri dalam mengayuh kehidupan. Ya, mengayuh sepeda kehidupan. (Penulis adalah Peneliti pada LPKD, tinggal di Cipayung Jaya, Kota Depok)